Turbulensi verbal*

Malem itu, gerimis jatuh dengan ogah-ogahan… membasahi tanah Jakarta yang lagi megap-megap mengharap kemarau segera berakhir di ujung bulan November yang meletihkan ini. Gw rebahan sendirian di kamar kos-kosan. Gw capek setelah dua hari kurang tidur, dua malam begadangan sambil membaca baris-baris kalimat jelimet yang pada intinya hanya menyampaikan pesan sederhana: di dunia ini memang nggak pernah ada yang beres… “no news” is a good news.. simpel aja kaan?? Tapi, pemaparan fakta dan pilihan katanya memang bikin jidat para pembaca berkerut-kerut, dan gw yakin bahwa tampang mereka bakal bertambah tua lima tahun setiap selesai membaca satu artikel. (Saran gw: jangan pernah mau membaca koran atau majalah berita, kecuali dibayar kayak gw ini, hihi…)

Dengan mood yang sok-sok diterjang romantic agony, gw menatap kosong ke arah langit-langit di kamar ini, sambil sesekali menatap sedih ke berbagai perabotan yang ada di sini. Gw berkata dalam hati: “Kalaupun nggak ada batasan antara benda hidup dan benda mati, gw nggak akan menjadikan salah satu dari kalian sebagai soulmate!” Dan memang gw lagi teringat seorang temen yang hobinya berpacaran dengan gadget.

Akhirnya, gw nyalain TV dengan volume yang gw bikin mute sambil dengerin musik dari kaset Opeth yang baru gw beli sore sebelumnya. Gw pindah dari channel satu ke channel lainnya. Dan baru berhenti setelah nemu saluran yang memberikan kenyamanan visual. Memang itu kebiasaan lama yang sampai sekarang gw pertahankan: “nonton TV” dalam arti sebenarnya, tanpa harus mendengarkan ocehan para penyiarnya.

Di tayangan berita itu terlihat seorang bocah kecil yang umurnya sekitar 5 tahun, didampingi ibunya. Dia lagi duduk di pojokan sofa dengan kaki kanannya dipasangi gips. Di matanya yang innocent itu, terlihat dia lagi menahan perih. Lalu nongol tagline di bawahnya: “Korban Smack Down”. Lucu banget kan?? Serius, gw sampai ngakak sendirian ngeliatnya, hihi.. Dan memang, sebenarnya dari tadi niat gw adalah bikin postingan tentang Smack Down itu, tapi… prolognya kepanjangan dan melebar ke mana-mana, (pake lead “Malam itu gerimis..” pula). Huh!

* Maaf bahasanya kaku, soalnya dah lama gak bikin postingan gara2 setiap ngeliat muka gw sendiri di webpage ini otak gw tiba2 jadi beku…
i{content: normal !important}
i{content: normal !important}
i{content: normal !important}

Sumanto


Ini sekarang gw lagi mengkhayal tentang sekelumit perjalanan karier Sumanto, si jagal-kanibal yang baru dibebaskan dari penjara itu. Begini isinya. Seperti kita ketahui, perilaku melanggar hukum yang dia lakukan –membunuh lalu menyantap daging korbannya– sungguh fenomenal. Dan oleh sebagian masyarakat kita yang haus hiburan, hal itu dipandang sebagai “keunikan yang menghibur”.

Maka, sekeluar beliau dari penjara, media massa pada berebut interviu. Bahkan ada production house yang nawarin dia jadi bintang iklan produk pembalut. Ada juga yang nawarin dia main film (dan di sebuah acara infotainment, para selebritis belonon pada sibuk melontarkan pendapat mereka yang jauh di bawah rata-rata cerdas tentang kemungkinan ini.) Lalu terakhir, sebuah stasiun televisi swasta mengontraknya buat jadi presenter acara gosip!

Kemarahan masyarakat pun meledak: “Kok bisa sih?? Seorang public enemy gampang banget berubah jadi public figure!” Lalu, seperti yang biasa kalian lihat, berbagai kelompok masyarakat menghimpun diri buat berdemo. Hampir tiap hari terlihat kerumunan massa yang marah, membentangkan spanduk-spanduk bertuliskan: “Selamatkan moral bangsa”, “Sumanto Go to Hell!”, “Dasar jagal amatiran”, “Pembunuh asal2an!”, “Nggak Berperikemanusiaan!”, “Syalan lo!”, dan sebagainya.

Bahkan, teror ancaman dan bom beneran meledak di mana-mana. Dan tentu saja, ancaman terhadap keselamatan fisik Sumanto. Maka, stasiun televisi swasta yang merekrutnya jadi host pun menyediakan pengamanan ekstra-ketat. Mereka merasa perlu membangun sebuah helipad di pelataran belakang studio, buat pendaratan helikopter yang bakal mengantar-jemput Sumanto; dan mereka merekrut sniper dari polsek setempat yang ditempatkan di sekitar kompleks studio. Tapi tetep aja, lokasi yang terletak di pinggiran kota itu jadi pusat kegiatan demo-mendemo. Ada juga di antara pendemo itu yang melingkarkan pita kuning mirip police-line di pintu gerbang studio, bertuliskan: “Mas Manto dilarang masuk!”

Meanwhile, nun jauh di sana, di gedung pusat televisi yang punya gawe itu, keadaan tenang-tenang aja. Sama sekali nggak terjadi keributan. Sama sekali aman dari demo-demo yang rusuh….

Ada yang salah? Yah.. secara gw kan yang mengkhayal, jadi suka-suka gw lah, hihi..

Please Allow Me to Introduce My Self… (finale)


Pasti ada yang protes….*bletakkz*

Please allow me to introduce myself (3)


Dalam “A Memorable Fancy”, penyair Inggris William Blake bilang: “If the doors of perception were cleansed every thing would appear to man as it is, infinite.” (Marriage of Heaven & Hell, 1793). Kata-kata itu kemudian dikutip oleh novelis Aldous Huxley menjadi judul sebuah buku: The Doors of Perception (1954). Nah, buku tersebut kemudian dibaca oleh Jim Morison, yang kemudian membuat band dan menamainya dengan… The Doors!

Lalu, judul blog ini ngutip dari mana? Secara gw bukan seorang kutu buku macam Jim Morison, proses penjudulannya nggak seribet itu lah. Pertama kali bikin dulu, judulnya adalah “Midnite X-Press”. Tapi seorang temen buru2 bilang bahwa dia pernah membaca kata-kata itu tertulis di tutup roda becak yang diparkir di sebelah tukang buah di sebuah pasar buah di Solo, Jawa Tengah… (mampuss, panjang & ilmiah!). Nggak orisinal lagi jadinya. Maka, kata “Beranda Malam” pun terlintas di benak gw. Dan, akhirnya, atas pertimbangan tipografis dan feng-shui, huruf “B”-nya gw ganti dengan “K”.

Terus, mentang-mentang judulnya pake “keranda” dan “malam”, maka layout gw bikin serba gelap, berbau “kematian”, dan sebagainya? Apakah itu artinya, di kehidupan real gw adalah seorang pemuja kematian, pengagum iblis, kandidat dajjal, maniak sadisme, inspirator Sumanto, brutalizer, metalizer, equalizer, synthesizer… atau aktivis politik, pengacara, dukun cabul, wartawan bodrek, bandar narkoba, pedofil, oediphus complex, dan tindak kekerasan lainnya? Tidak. Gw adalah orang biasa yang menjalani hidup dengan biasa-biasa aja….

Ada penjelasan tersendiri yang panjang lebar, tapi bakal bikin capek. Seperti pas gw dulu ditanya oleh seorang reporter tivi: “Mas kenapa suka yang gelap-gelap?” Gw memerlukan waktu beberapa menit sebelum bisa buka mulut. Menurut gw, itu pertanyaan menjengkelkan dan nggak penting buat dijawab. Mirip-mirip dengan pertanyaan “kenapa bulet itu identik dengan sexy?”, atau yang lebih ribet lagi: “si Bush datang ke Bogor orang pada ribut, padahal gw pas berkunjung ke Solo kemarin orang sono pada tenang2 aja.. kenapa ya?” Nggak penting dijawab kan!

Sekali lagi, “If the doors of perception were cleansed every thing would appear to man as it is, infinite.

Liburan di Rumah Nenek


Solo (sebenernya lebih tepat ditulis “Sala”) adalah sebutan lain dari Kota Surakarta, salah satu bekas pusat kerajaan Java yang terletak di tengah-tengah rada timur Provinsi Jawa Tengah. Rada gerah kalau siang, suhu udara rata-rata 38 derajat Celcius. Kotanya bersih, mirip-mirip layout Blogdrive. Jalanannya gede-gede dan mulus. Populasi, tingkat pendapatan, dan sebagainya? Gw nggak tau! Yang jelas di situ udah berdiri beberapa mall gede-gede, sementara jumlah keratonnya dari dulu cuma dua, hihi..

Dan yang bikin gw rada geli, di Solo udah ada distro, factory outlet, toko-toko branded. Bayangin aja: cewek2 di situ pada ngantri panjang di depan BreadTalk sambil pake kebaya and kemben… unik kaan (namanya juga gw lagi ngibul!)

Di situlah gw kemarin menghabiskan liburan. Gw berharap bisa nemu hal-hal baru di kota ini, tapi ternyata pemandangannya sama aja kayak tahun-tahun sebelumnya: lalu lalang motor dan mobil-mobil berpelat nomer B di sekujur kota, bikin macet jalanan. Klise banget. Petentang-petenteng mirip sebatalyon pasukan tempur yang pulang dari medan laga. Atau tepatnya, segerombolan allien yang menginvasi kota. Atau lebih tepatnya lagi, mirip penduduk Jakarta yang tiap Sabtu-Minggu menginvasi Bandung (?).

Yang sering terlihat: mereka, rombongan-rombongan keluarga itu, berjejal di tempat-tempat penjual makanan dan melahap habis semua yang tersedia di meja. Berisik.. Rusuh… Chaos.. Benar-benar mengerikan! But we need a kinda self-actualization, rite?

Terus gw sendiri ngapain? Seperti udah gw jelaskan dulu, gw ke situ adalah dalam rangka iseng. Larut dalam arus mudik-balik buat menggali cerita-cerita menarik dari mereka, trus gw berharap sesampai di kampung halaman bisa ketemu orang-orang yang gw ingin ketemu. Dan akhirnya memang gw berhasil menemui beberapa di antara mereka… tambah manis-manis kok mereka (lhah???) Yang penting lagi, ziarah, ketemuan dengan adik-kakak, para ponakan, dsb. Juga nengokin bekas rumah ortu yang ternyata spesies memedinya mayan banyak, yakni gendruwo, pocong, ama mbak kunti yang cantik itu….!


pst-scrpt:

* Cerita yang lebih bener akan gw upload kapan-kapan, kalo gw udah gak capek… sekarang gw lagi kena lag, baru dateng dari perjalanan itu.

* Postingan ini sekadar buat setor muka…:D… Buat menangkis gosip yang sementara ini beredar bahwa gw pulang kampung adalah dalam rangka mau dikawinin, huuu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.